DUA MINGGU PPAK 24 BANDUNG

Anugrah. Itulah yang dapat saya katakan. Dua minggu sudah saya lalui di Bandung. Banyak berkat yang saya dapatkan secara utuh, baik jasmani maupun rohani, maupun knowledge, serta karakter. Semua ini merupakan proses belajar bagi saya, yang membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan, entah itu pengetahuan dalam mengerti Alkitab, maupun budaya. Bagaimana demikian? Karena di dalamnya saya banyak mendapatkan hal-hal dan inspirasi baru baik melalui materi-materi yang diperoleh, berinteraksi dengan rekan-rekan yang berasal dari suku dan latar belakang budaya yang berbeda (logat bicara, cara menyikapi sesuatu) dll. Ternyata bukan hanya itu saja,,, baru 2 minggu berjalan,, berat badan sudah bertambah 2 kg. Itu baru dua minggu.. bagaimana jika nanti sampai 8 minggu?? belum lagi berwisata keliling kota… Namun ini bukanlah esensinya, tapi bonussss,,, hehehhehe… Yang terpenting adalah bagaimana mempertanggungjawabkan semua ini…
TQ JESUS

Advertisements

wisuda

Bagi seorang mahasiswa, wisuda adalah momen yang paling ditunggu dan diusahakan dengan sekuat tenaga. Dan inilah yang kudapati dalam diriku,, bahwa semuanya terwujud sesuai harapan melalui perjuangan agar bisa lulus dari ujian mental dan pengetahuan. tentunya masing-masing mempunyai jalannya.

Prof. Masatoshi Koshiba

Prof. Masatoshi Koshiba
Masatoshi Koshiba lahir di kota Toyohashi, Aichi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sebuah sekolah menengah atas di Yokosuka, ia menekuni ilmu fisika di Tokyo University. Selama berada di sekolah menengah, Koshiba selalu memperoleh nilai merah. Secara kebetulan ia pernah mendengar gurunya mengatakan bahwa ia tidak mungkin belajar fisika, karena nilainya dalam mata pelajaran sains selalu rendah. Hal ini yang menantang Koshiba untuk belajar fisika secara mendalam, selain ketertarikannya terhadap ilmu fisika setelah ia membaca riwayat hidup para fisikawan, seperti Albert Einstein. Ketika pertama kali ia mendaftar di Tokyo University, ia ditolak. Mungkin karena nilainya yang pas-pasan. Setelah mencoba mendaftar untuk kedua kalinya, ia diterima.? Selama kuliah, ia juga masih memperoleh nilai yang kurang memuaskan. Dengan penuh ketekunan dan kerja keras, Koshiba berhasil menyelesaikan kuliah di Tokyo University pada tahun 1953. Pengalaman memperoleh nilai yang rendah selama di sekolah menengah dan Tokyo University tidak membuatnya patah semangat. Ia masih tetap ingin mendalami ilmu fisika pada jenjang yang lebih tinggi. Berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Jepang, Koshiba mendaftarkan diri di University of Rochester, Amerika Serikat. Dalam surat rekomendasi, dosennya menulis bahwa : ” selama kuliah nilainya tidak bagus, tetapi ia juga tidak bodoh”. Ia diterima di University of Rochester dan berhasil memperoleh gelar doktor pada bulan juni 1995.

Setelah menyelesaikan program doktor di Amerika Serikat, Koshiba kembali ke jepang dan mengajar di Tokyo University sampai tahun 1987. Ia diangkat menjadi profesor di Tokyo University. Ketika masih kuliah di kampus tersebut ia sering mendapat nilai yang kurang memuaskan… ternyata ia menjadi profesor di tempat yang sama. Setelah itu ia pindah ke Tokai University dan berkarya di sana hingga ia pensiun pada tahun 1997. Sebulan sebelum ia pindah dari Tokyo University ke Tokai University, tepatnya tanggal 23 Februari 1987 Koshiba berhasil membuktikan keberadaan partikel elementer yang disebut neutrino. Keberhasilan yang ia peroleh setelah bekerja keras tersebut membuahkan penghargaan Nobel Fisika pada tahun 2002. Ia memperoleh nobel fisika bersama Raymond Davis, Jr dan Riccardo Giacconi.

Para fisikawan telah lama dibingungkan dengan keberadaan neutrino, partikel sub atomik. Sejak tahun 1920, para fisikawan memperkirakan bahwa matahri bersinar karena reaksi fusi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium sambil melepaskan energi. Perhitungan teoritis menunjukkan bahwa sejumlah neutron harus dilepaskan selama rekasi tersebut, karenanya bumi juga kebanjiran neutrino dari matahari. Karena neutrino berinteraksi sangat lemah dengan benda-benda maka diperkirakan hanya satu dari milyaran neutrino matahari yang tertahan di luar angkasa dan sebagian besar neutrino sampai di bumi. Pada tahun 1980, menggunakan hasil rancangan Raymond Davis, Jr, Koshiba membangun detector nuklir bawah tanah. Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Detector tersebut berhasil membuktikan adanya neutrino, sebuah penemuan yang membawa Koshiba, menjadi salah satu peraih nobel fisika.

Dr. Kebamoto, Fisikawan Asal Sumba NTT

(Disadur dari Dapaloka’s Blog)
Tanpa baju seragam dan bertelanjang kaki. Tidak mandi pagi saat berangkat sekolah karena terlalu dingin. Lalu ketika perut sudah lapar pada siang hari, ia hanya makan buah mangga dari kebun teman dekat sekolah. Sepulang sekolah dengan kaki-kaki mungil dan kulit legam ia bermain bersama teman-teman di padang rumput. Dan ketika hari sudah sore,dia pulang ke rumah setelah makan seadanya—bisa jadi hanya makan ubi—lalu tidur. Belajar? Tidak mungkin sebab tidak punya buku. Modalnya hanya “dengar-dengar” di kelas.

Pernah karena keasyikan bermain bersama teman-teman di padang, ia sempat bolos sekolah selama dua minggu. Akibatnya, begitu nongol kembali ke sekolah, oleh gurunya dia langsung dijemput dengan hukuman berlutut di atas pecahan batu tajam selama beberapa jam sampai kakinya berdarah-darah.

Setidaknya begitulah gambaran masa kecil Dr. Kebamoto, dosen Fakultas MIPA UI yang lulusan Universitas Munchen, Jerman selama menjalani masa SD di kampung halamannya, Waikabubak, Sumba Barat, NTT pada era tahun 1970-an. Dia anak yang sangat miskin fasilitas. Maklum, kedua orang tuanya miskin dan buta huruf.

Bukan hanya dirinya atau keluarganya yang miskin. Masyarakatnya memang miskin. Gedung sekolah yang dibangun masyarakat hanya beratap ilalang dengan seluruh bahan bangunan, bangku dan meja dari kayu dan bambu. Konstruksi bangunan pun ala kadarnya sehingga pernah roboh diterpa angin. Akibatnya kegiatan sekolah sempat dipindahkan ke kantor desa, kemudian pindah ke gedung gereja yang juga terbuat dari ilalang. Suatu hari ketika diterpa angin yang agak kencang, gereja pun roboh sehingga masyarakat kembali membangun gedung SD yang ternyata kemudian roboh juga. Beruntung setelah itu ada proyek pembangunan gedung SD Inpres.

Kebamoto, seperti teman-teman sebayanya benar-benar tumbuh “apa adanya” tanpa motivasi dan arahan apa pun. Mestinya bacaan seperti koran atau buku bisa menjadi sumber motivasi. Tapi apa boleh buat! Kedua medium ini masih menjadi barang langka kala itu. “Waktu itu koran adalah barang mewah sebab hanya pejabat tinggi yang bisa membacanya,” kenang anak keempat dari lima bersaudara ini.

Kalau pun sempat nemu koran bekas, pasti hanya carikan tidak utuh yang tentu saja sulit dibaca karena sobekannya tidak teratur. Meski begitu, Kebamoto tetap berminat membaca koran yang telah menjelma menjadi sampah itu. Ternyata “sampah” tersebut mampu membuka wawasan ayah dua anak ini bahwa ada dunia lain di luar kampungnya. Pengalaman ini kemudian semakin memacu dia untuk tidak melewatkan setiap sobekan koran yang dia jumpai, juga rajin membaca buku-buku paket yang tidak seberapa di sekolahnya. “Dari buku paket itu saya lihat foto reaktor nuklir, lalu berangan-angan suatu waktu bekerja sebagai ahli nuklir,” jelas penemu Hard Coating Nano Composite—suku cadang yang lebih keras dari intan dan bisa dipakai sebanyak 3000 kali. Spare part ini dipasang atau dilapiskan pada alat potong (cutting tools).

“Jujur saja, saat itu saya saksikan kemiskinan di kampung saya dan saya ingin menebus kemiskinan itu. Makan enak saja tidak pernah. Ini yang membuat saya rajin membaca,” jelas Kebamoto.

Ada kebiasaan dalam masyarakatnya, semiskin apa pun sebuah keluarga, kalau kedatangan tamu terhormat, dia akan menjamu minimal dengan makan siang atau makan malam. Setidaknya sang tuan rumah harus menyembelih seekor ayam. Setelah dimasak, semua daging ayam itu diberikan kepada sang tamu. Tuan rumah hanya kebagian sayap dan cakarnya saja. “Jadi kita anak-anak hanya nonton saja,” kata Kebamoto.

Dalam segala keterbatasan, Kebamoto tumbuh. Namun yang “mengherankan”, selama di bangku SD-SMA dia selalu mendapat nilai bagus, sehingga para gurunya menganjurkan kepada orangtuanya agar mereka mengirim Kebamoto ke Perguruan Tinggi. Dia beruntung, kedua orang tuanya mengikuti anjuran tersebut. Dengan demikian, Kebamoto mendapat “keistimewaan” luar biasa di antara saudara-saudaranya yang lain. Sebab ketiga kakaknya putus sekolah. “Rupanya, memang begitulah rencana dan jalan Tuhan buat saya,” ungkapnya singkat soal keistimewaan ini.

Selepas SMA, entah dari mana sumbernya, beredar berita di seantero Sumba bahwa seseorang yang bernama Kebamoto adalah anak yang sangat pintar bahkan jenius dengan nilai rata-rata sepuluh. Dia lalu menjadi pembicaraan di sekolah, pasar, mata air, kantor-kantor pemerintahan dan di tempat-tempat lain. Sejumlah wartawan silih berganti datang mewawancarai orang tuanya. Ini menyebabkan berita itu tersebar hampir ke seluruh NTT.

Kian hari, berita ini kian meluas, bahkan ada yang “kreatif” membuat cerita bahwa setiap kali pulang kampung Kebamoto selalu menggunakan helikopter buatan sendiri. Ini semua karena Kebamoto pintar.

Tentu saja berita semacam ini berlebihan, terutama soal menggunakan helikopter buatan sendiri. Tapi apa mau dikata? Berita tersebut sudah terlanjur membangun citra bahwa seorang Kebamoto adalah orang “super pintar”. Berita ini pun sampai ke telinga Kebamoto dan sempat membebani pikirannya. “Bagaimana jadinya kalau saya tidak sempat jadi sarjana?” tanya pria kelahiran Sumba Barat, 25 Januari 1963 ini dalam hatinya.

Untungnya, predikat super yang dikenakan padanya memicu semangatnya untuk tekun belajar. “Saya sangat bersyukur tidak ada kesulitan dalam perolehan nilai akademis,” akunya.

Bahkan, karena prestasi akademisnya memuaskan, ketika duduk di bangku tingkat II Fakultas Fisika UI, dia sudah mendapatkan beasiswa dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Dan begitu lulus S1, dia langsung diminta menjadi dosen Fisika di almamaternya. Kemudian, Prof. Dr. Parangtopo yang memintanya menjadi dosen menyeponsorinya melanjutkan S2-nya di UI, lulus tahun 1992.

Setelah menamatkan jenjang S2, semangat Kebamoto untuk melanjutkan S3 membuncah dan mematok syarat, harus di luar negeri. Melalui perjuangan yang melelahkan dan sempat membuatnya putus asa, Kebamoto akhirnya mendapat kesempatan merebut S3 di Universitas Munchen, Jerman. Berkat ketekunan yang luar biasa, dalam rentang waktu yang sangat singkat (2,5 tahun), dia sudah menuntaskan kuliahnya dan berhak menyandang gelar doktor dengan predikat magna cum laude pada tahun 2001. Disertasi berjudul Preparation and Characterization of Novel Super – and Ultrahard Nanocomposites and Investigation of Their Mechanical Properties. Sekadar informasi, seorang doktor ilmu alam di Jerman mendapat gelar rer.nat, kepanjangan dari rerum naturalium atau doctor of natural sciences.

Waktu tempuh studi 2,5 tahun untuk tingkat doktoral pada Fakultas Kimia semakin menegaskan bahwa Kebamoto memang termasuk mahasiswa yang cerdas dan percaya diri. “Konon, kata teman yang berkebangsaan Jerman, mahasiswa yang paling pintar saja, paling cepat tiga tahun di Fakultas Fisika, bukan di Fakultas Kimia di mana saya belajar,” kata penulis buku Gelombang Nanoteknologi ini.

Dengan kualifikasi kelulusan dan waktu tempuh kuliah yang singkat, Kebamoto diminati oleh beberapa universitas dan lembaga lain di Jerman dan Amerika. Dia sempat bekerja di Jerman Selatan dan mendapat gaji yang menggiurkan. Namun setengah tahun kemudian dia memutuskan pulang ke Indonesia dan menjadi dosen di Fakultas MIPA UI.

Kini, selain mengajar dan menulis belasan buku, ratusan artikel dan melakukan puluhan penelitian dan publikasi internasional, Kebamoto secara khusus mengabdikan sebagian waktu, tenaga, semangat dan pikirannya untuk memberdayakan manusia muda NTT.

Sejak tahun 2004 dia terjun langsung ke sekolah-sekolah di NTT atau melalui kerjasama dengan pemerintah setempat, dia melatih para siswa dari tingkat SD-SMA tentang bagaimana belajar pada umumnya dan belajar Fisika khususnya. Selain itu dia juga melatih ribuan guru tentang metode mengajar yang efektif dan menyenangkan di mata para murid.

Hasilnya? Pada tahun 2004 siswa SD yang dilatihnya memeroleh 1 medali perunggu untuk Matematika dan Honorable Mention untuk IPA dalam Olimpiade Sains tingkat nasional. Pada tahun 2005, dalam lomba Matematika tingkat Internasional di Bali anak SD asuhannya dari NTT mendapat 1 medali emas, 3 medali perunggu. Pada saat yang sama, anak yang memeroleh medali emas tersebut mendapat Satya Lencana dari Presiden SBY. Sedangkan untuk tingkat SMA, anak asuhnya yang berasal dari Sumba Timur berhasil merebut 1 perunggu dan kemudian berhasil masuk ITB.

Kemudian secara berturut-turut anak-anak terus meraih prestasi membanggakan. Bahkan grafik kelulusan di universitas favorit di pulau Jawa meningkat. Pada tahun 2005 misalnya, 4 anak dari Kabupaten Manggarai (Flores Barat) dan 1 dari Kabupaten Ende berhasil masuk UI.

Pada tahun 2006 anak-anak SD asuhannya memeroleh 1 perak dan 2 perunggu, SMP (1 perunggu). Pada 2007 anak-anak asuhnya memeroleh 3 medali perak dan 3 medali perunggu (semuanya tingkat SD).

Yang sangat menggembirakan bagi Kebamoto adalah saat dia menerima berita dari para guru yang ditraningnya bahwa minat belajar pada siswa meningkat setelah para guru mereka mendapat pelatihan. Selain itu, para siswa terpacu untuk berprestasi setelah mengetahui teman-teman mereka berhasil. “Kalau anak-anak di Jakarta yang mendapat medali-medali itu biasa saja bahkan kurang. Tapi ini oleh anak-anak NTT dari berbagai pelosok yang sangat jauh dari fasilitas memadai,” komentarnya menyangkut prestasi tersebut.

“Saya dulu mengalami masa yang sangat sulit. Masa sih mereka harus mengalami juga masa pahit itu?” tanya Kebamoto retoris menjawab HIDUP sambil melontarkan keinginannya untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi kerakyatan di NTT. “Sebab kalau direfleksikan, semua latar belakang dan apa yang saya peroleh hanyalah given. Jadi saya harus berbuat sesuatu,” ungkap pria yang juga gemar menulis cerpen ini mengakhiri bincang-bincang.

Oleh-Oleh KNM 2010 Untuk NTTku

Merupakan momen yang tak terlupakan, yang akan menghiasi memori 1000 anak bangsa yang diutus untuk mengikuti Kemp Nasional Mahasiswa 2010, pada tanggal 12-17 Agustus 2010 di Wisma Kinasih Bogor Jawa Barat. Selama hampir seminggu, peserta diajak untuk merenungkan, mencermati, dan menganalisis segala masalah dan kebobrokan bangsa serta mengambil solusi-solusi konkrit untuk mengatasinya.
Sungguh sangat memprihatinkan, ketika melihat penderitaan Ibu Pertiwi. Kemiskinan yang masih menguasai penduduk negeri ini, pengangguran tanpa solusi, pendidikan yang dijadikan sebagai lahan komersial yang akhirnya hanya dinikmati oleh orang-orang berada, dan diperparah lagi dengan ketidak adilan dan KKN dalam berbagai sendi kehidupan bangsa.
Negeri yang dikatakan kaya raya dengan potensi alamnya, namun penduduknya justru mengalami hal-hal kompleks yang memprihatinkan. Korupsi yang kelihatannya menjadi budaya yang kental di dalam lini pemerintahan, kasus suap dan disuap yang memperbudak anak-anak bangsa yang sebetulnya berkualitas tinggi, dan dihancur-leburkan oleh ketidak adilan penafsiran hukum penegak hukum.
Ditinjau dari Perguruan Tinggi sebagai penghasil/pencetak alumni-alumni yang banyak berkiprah dalam dunia pemerintahan yang memilki pengaruh paling besar bagi transformasi masyarakat, juga tidak lepas dari kasus-kasus KKN. Mulai dari kinerja kepegawaian Universitas yang korup, sampai pada staff pengajar yang berlaku tidak adil, sewenang-wenang menggunakan otoritas sebagai dosen, serta pengajaran yang tidak optimal, atau asal jalan. Perguruan Tinggi secara fungsional harusnya mencetak alumni-alumni yang bukan saja profesional dalam bidangnya, namun memliki karakter yang mulia dan dapat memecahkan masalah bangsa yang bukan hanya kompleks tetapi rumit.
Jika kenyataannya demikian, siapakah yang akan bertanggungjawab demi Indonesia yang lebih baik??? Fakta-fakta ini menunjukkan betapa krisis moral melanda anak bangsa bagaikan penyakit mematikan yang sedikit lagi akan merrengut nyawa.
Adakah solusi yang tepat? Atau pasrah dan terhanyut dengan keadaan yang ada, sambil membiarkan rasa pesimis meresapi pikiran, yang akhirnya membuat kita apatis.
Tiadak demikian. Kehadiran Alumni Kristen harus menjadi solusi. Sebagai mahasiwa Kristen, harus disadari bahwa status tersebut sebagai persiapan menghadapi maslah-masalah tersebut, bukan untuk terhanyut tetapi melawan arus yang mematikan tersebut, dan lebih mulia lagi jika dapat membendungnya. Alumni Kristen harus mampu mempertahankan integritas, sebagai wujud dari peran aktif pemulihan bagsa, ditengah-tengah kerapuhan moral bangsa. Alumni Kristen harus mampu memberikan pengaruh positif bagi Indonesia yang lebih baik.
Alumni Kristen dengan spiritualitas yang baik harus memberikan pencerahan bagi arah perjalanan bangsa, bukan dengan semakin mengurung diri pada biara-biara persekutuan sesama Kristen demi kenyamanan diri sendiri. Untuk mencapai hal ini, maka mau tidak mau harus dipersiapkan secara matang sejak mahasiswa. Pengembangan diri seorang mahasiwa Kristen harus utuh, baik spiritualnya maupun akademik/skill. Keduanya harus seimbang, karena keduanya tak terpisahkan. Dengan demikian maka tantangn-tantangn bangsa dapat diatasi. Inilah dasar optimismisme Indonesia yang lebih baik.
Inilah bingkisan yang dibawa dari KNM 2010, bagi rekan-rekan sepelayanan yang ada di NTT khususnya Kupang, dan lebih khusus lagi PMK MIPA FST Undana tercinta.
by:Kostan Mataubenu.

LPJ BP PMK MIPA FST UNDANA

lpj2

Bandul Matematis

 EKSPERIMEN FISIKA

 

 

 

  1. I.                         JUDUL PERCOBAAN :  ANALISIS PERUBAHAN ENERGI PADA

 

                                                   BANDUL MATEMATIS

  1. II.                      PENDAHULUAN

II.1 Latar Belakang

      Ayunan sederhana merupakan salah satu contoh sistem yang melakukan gerak harmonik sederhana. Melakukan eksperimen dengan bandul matematis perancangannya sederhana namun dari kesederhanaan tersebut, kita dapat mengamati dan menganalisis berbagai peristiwa fisis seperti percepatan gravitasi bumi dan perubahan energi selama proses ayunan matematis sederhana.

      Berdasarkan hal di atas maka dilakukan eksperimen dengan memanfaatkan ayunan sederhana atau yang dikenal dengan bandul matematis untuk mengamati dan menganalisis perrubahan energi dari energi potensisal ke energi kinetik. Dalam eksperimen ini difokuskan pada besarnya perubahan energi kinetik terhadap besarnya simpangan.   

II.2 Tujuan

            Tujuan eksperimen ini adalah mengamati proses transfer energi pada bandul matematis, besar perubahan energi kinetik maksimum terhadap perubahan simpangan yang diprlakukan pada ayunan sederhana atau bandul matematis.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II.3 Tinjauan Pustaka

           

B
A
O

 

 

Jika sebuah benda kecil dan berat kita gantungkan pada sebuah tali penggantung (ringan dan tidak mulur) dan berayun dengan sudut simpangan kecil maka susunan ini disebut bandul matematis.

Gerak bolak balik yang teratur yang melewati titik kesetimbangan  (titik O) pada ayunan sederhana ini disebut getaran. Yang disebut satu getaran pada gerak ayunan adalah adalah partikel bergerak dari A-O-B-O-A. Intinya adalah partikel bergerak dari titik A ke titik A melalui lintasan yang sama

            ……………………………………….                        (1)

Keterangan:

T = Periode ayunan (detik)

l = panjang tali (meter)

 

Frekuensi ayunan (f) adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam waktu 1 detik. Misalkan banyaknya getaran yang terjadi adalah n dan waktu adalah t maka frekuensi ayunan adalah

 ……………………………………………………………………………                     (2)

Hubungan antara kecepatan sudut, periode dan frekuensi getaran dapat dituliskan

……………………………………………………………………                  (3)

Sehingga   =………………………………………………………………                  (4)

Hubungan antara percepatan sudut dan percepatan linear dalam gerak harmonik sederhana adalah

…………………………………………….              (5)

Pada kasus ayunan sederhana, besar percepatan linearnya adalah

 ………………………………………………………………………………           (6)

Waktu yang dibutuhkan bandul matematis dari titik A ke titik O (titik kesetimbangan) adalah t = ……………………………………………………………………….                   (7)

Sehingga untuk mendapatkan kecepatan linear (v) bandul matematis saat berada pada titik O(v maksimum) adalah

…………………………………………………………………………….. (8)

Energi kinetik maksimum pada bandul matematis adalah

…………………………………………………………………………           (9)

Sedangkan energi potensialnya adalah

………………………………………………………………..            (10)

Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik maka sudut simpangan yang mesti diperhatikan adalah dar 00 – 150. Pada saat bandul berada pada titik A dan titik B, energi potensial bandul maksimum, sedangkan pada saat berada pada titik B energi kinetiknya maksimum yang besarnya merrupakan besar energi potensial maksimum. Hal ini merupakan prinsip hukum kekekalan energi.

  1. III.                   PERALATAN

Peralatan yang digunakan dalam eksperimen ini adalah

  • Perangkat bandul matematis 1 buah
  • Stopwatch 1 buah
  • Mistar ukur 1 buah
  • Busur derajat 1 buah
  1. IV.                    PROSEDUR EKSPERIMEN
  • Dipersiapkan peralatan di atas
  • Disimpangkan bandul 30 dari titik kesetimbangan
  • Dicatat waktu selama 15 kali osilasi
  • Diulangi langkah 1-3 untuk simpangan 40 – 100
  • Dari data-data yang telah diambil, dihitung energi kinetik maksimum dan energi potensial setiap simpangan dengan menggunakan persamaan (9) dan (10).
  •  Dibuat grafik hubungan antara perubahan energi kinetik maksimum dengan peubahan simpangan.

Regenerasi BP PMK MIPA FST UNDANA

Tanggal 9-11 Juni 2010 merupakan suatu momen bersejarah bagi Persekutuan Mahasiswa Kristen MIPA FST UNDANA Kupang. Bertempat di Gedung Susteran Belo suatu tempat yang sunyi di pinggiran Kota Kupang berlangsung regenerasi BP PMK MIPA periode 2010-2011. Tongkat estafet pelayanan diserahkan oleh Kostan Mataubenu dan teman-teman BP PMK MIPA periode 2009-2010 kepada 16 orang BP PMK yang baru yang dinahkodai oleh seorang plegmatis Pynky Leo Lede Mahasiswa semester V jurusan Ilmu Komputer.
Suasana acara yang begitu syahdu dirancang oleh panitia begitu mengesankan dan menggugah para peserta yang mengikutinya sehingga momen ini benar-benar membekas dalam benak. Acara camp yang diwarnai dengan eksposisi tokoh Musa yang dibawakan oleh k’Fredy Saudale S.Si, M.Sc, sangat memotivasi para BP yang baru yang ditandai dengan cucuran air mata. Acara yang sungguh mendatangkan kemuliaan bagi nama Yesus pemilik pelayanan, sungguh menunjukkan bahwa wadah pelayanan ini diberkati Tuhan luar biasa.

Dan kini saatnya mereka BP PMK MIPA periode 2010-2011 akan melaksanakn tugas mereka. Ada 32 KTB yang menantikan jamahan tangan mereka. PMK MIPA setahun ke depan berada dalam panduan mereka yang telah dipercayakan Tuhan Yesus. Kiranya PMK MIPA tetap menjadi mesin pencetak alumni-alumni Kristen yang berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus dan menjadi garam dan terang bagi bansa Indonesia khususnya Kota Kupang tercinta.

Refleksi pelayanan PMK MIPA FST UNDANA

refleksi pelayanan

foto Regenerasi PMK MIPA FST UNDANA 09-10

animate2